Thursday, October 15, 2020

MATERI KE-7

  1. Tulislah ayat dan terjemahan berikut ini kemudian hafalkan ketiganya
  • SURAT AZ-ZUMAR AYAT 53
  • SURAT AN-NAJM AYAT 39-42
  • SURAT ALI IMRON AYAT 159

     2. Memahami Hukum Bacaan Qalqalah

a. Qalqalah Qalqalah berarti memantul/membalik. Dengan demikian bacaan qalqalah adalah bacaan lafas dalam al-Qur'an yang memantul/mem­ balik. Qalqalah dibagi dua, yaitu : 1) Qalqalah sugra (kecil) Suatu lafaz dibaca qalqalah sugra apabila di dalamnya terdapat huruf qalqalah yang berharakat sukun. Adapun huruf qalqalah ada 5, yaitu  ب ج د ط ق
b. Qalqalah kubra (besar) Suatu lafas dibaca qalqalah kubra apabila di dalamnya terdapat huruf qalqalah yang berharakat hidup tetapi diwaqafkan (berhenti) sehingga huruf qalqalah tersebut dibaca sukun. Dibanding qalqalah sugra, cara membaca qalqalah kubra memantulnya lebih kuat atau mantap.
untuk contoh lihat pada buku paket

3. Memahami Isi Kandungan Ayat

Q.S. Az-Zumar/39:53, 
Allah Swt. telah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa beristighfar. Mengapa demikian? Karena bisa jadi kita ini melakukan dosa yang tidak disengaja, baik kepada sesama manusia maupun kepada Allah Swt. Dosa kepada Allah  Swt. bisa diampuni dengan cara membaca kalimat istighfar. Namun, dosa kepada sesama manusia tidak cukup hanya dengan membaca istighfar. Di samping istighfar, harus ada permintaan maaf kepada orang yang bersangkutan. Berputus asa dari rahmat Allah Swt. termasuk sikap tercela. Sebagai seorang mukmin, kita harus selalu optimis akan mendapat rahmat Allah Swt. Rahmat Allah Swt. akan diberikan kepada mereka yang bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada-Nya. Setiap manusia pasti pernah melakukan dosa dan salah, kecuali para nabi dan rasul. Dosa dan kesalahan tersebut jangan sampai membuat kita putus asa dari rahmat Allah Swt.  

Q.S. An-Najm/53:39-42
Melalui ayat ini, Allah Swt. berjanji akan memberi balasan sempurna kepada orang yang mau berusaha keras. Setiap usaha atau ikhtiar untuk memenuhi kebutuhan hidup hendaknya diawali dengan niat karena Allah Swt. semata. Seorang pedagang menjajakan dagangannya di pasar dengan penuh harap akan mendapatkan rezeki banyak. Petani mencangkul di sawah berharap hasil panennya melimpah. Tukang becak mengayuh becaknya sekuat tenaga untuk mengantarkan penumpang menuju tujuan.  Karyawan bekerja di kantor agar pekerjaannya segera selesai. Pedagang, petani, tukang becak, karyawan atau profesi lainnya, bekerja sesuai keahliannya masing-masing. Mereka bekerja keras mencari nafkah, tanpa mau berpangku tangan. Mereka enggan dikasihani dan tidak mau menjadi beban orang lain. Sungguh, mereka adalah orang-orang mulia karena telah bekerja keras menafkahi keluarga dengan cara halal. Allah Swt. akan mengaruniakan pahala berlipat ganda kepada mereka. Pahala tersebut akan menjadi bekal meraih kebahagiaan di akhirat. Amal saleh yang telah mereka lakukan akan dibalas dengan surga. Surga merupakan balasan sempurna dari Allah Swt. bagi hamba- hamba-Nya yang saleh. 
 
Q.S. ‘²li ‘Imran/3:159
Melalui ayat ini, Allah Swt. memerintahkan Rasulullah saw. untuk memaafkan dan memohonkan ampun atas dosa dan kesalahan orang lain, terutama sahabat-sahabat Rasulullah saw. Demikian pula dengan kita, sebelum seseorang meminta maaf kepada kita, hendaknya kita memberi maaf terlebih dahulu. Dengan saling memaafkan, hidup menjadi tenang, harmonis dan tercipta kerukunan. Lebih dari itu, ayat ini juga memerintahkan untuk mendoakan orang lain agar mendapat ampunan dari Allah Swt. Berdoa kepada Allah Swt. merupakan inti ibadah dalam Islam. Melalui doa, kita meminta segala sesuatu kepada Allah Swt. Kita berharap Allah Swt. mengabulkan semua doa kita.
Islam mengajarkan untuk mendoakan orang lain, bukan hanya berdoa untuk diri sendiri. Di antara doa terbaik untuk orang lain adalah berdoa agar Allah Swt. mengampuni semua dosa dan kesalahannya. 

Setelah selesai mencatat isilah Absen dan Ulangan Harian pada LINK berikut ini:


Demikian terima kasih
Guru PAI
NIZAR MAULANA, M.Pd.I


Thursday, October 8, 2020

MATERI KE-6

MATERI KE-6 

SEJARAH ISLAM DI NUSANTARA

1. Alur Perjalanan Dakwah di Nusantara

  • Teori Mekah, Menurut teori Mekah, proses masuknya Islam ke Indonesia adalah        langsung dari Mekah atau Arab. Terjadi pada abad pertama Hijriyah atau abad ke-7 Masehi. Para pedagang dari Timur Tengah memiliki misi dagang dan dakwah sekaligus.
  • Teori Gujarat,Teori Gujarat mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke-7 H atau abad ke-13 M. Gujarat adalah sebuah wilayah di India bagian barat, berdekatan dengan Laut Arab.
  • Teori Persia, menurut teori ini dikatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari daerah Persia atau Parsi (sekarang Iran). Sebagai buktinya, ada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Parsi dan Indonesia. Tradisi tersebut antara lain adalah tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyuro.
  • Teori Cina, Menurut teori Cina, proses kedatangan Islam ke Indonesia (khususnya di tanah Jawa) berasal dari para pedagang Cina. Mereka telah berhubungan dagang dengan penduduk Indonesia jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia, yakni sejak masa Hindu-Buddha.  Ajaran Islam sendiri telah sampai di Cina pada abad ke-7 M. Pada masa Dinasti Tang (618-960) di daerah Guanzhou, Kanton, Zhang-zhao, dan pesisir Cina selatan, telah terdapat sejumlah pemukiman Islam. Sebagai pembuktian teori Cina ini, bahwa raja Islam pertama di Jawa, yakni Raden Patah dari Bintoro Demak, merupakan keturunan Cina. Ibunya disebutkan berasal dari Campa, Cina bagian selatan (sekarang termasuk Vietnam).
WALI SONGO (SEMBILAN WALI)
Di antara sekian banyak wali, yang terkenal adalah Wali Songo (Wali Sembilan). 
Berikut ini adalah uraian setiap Wali Songo. 
  1. Sunan Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Maghribi, yang diduga berasal dari Persia dan berkedudukan di Gresik. 
  2. Sunan Ampel atau Raden Rahmat, berkedudukan di Ampel, Surabaya. 
  3. Sunan Bonang atau Raden Maulana Makdum Ibrahim, putra dari Raden Rahmat (Sunan Ampel). Ia tinggal di Bonang, dekat Tuban. 
  4. Sunan Giri atau Prabu Satmata atau Sultan Abdul Fakih yang semula bernama Raden Paku, berkedudukan di Bukit Giri, dekat Gresik. 
  5. Sunan Drajat atau Syarifuddin, juga putra dari Sunan Ampel dan berkedudukan di Drajat, dekat Sedayu, Surabaya. 
  6. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah atau Syeikh Nurullah berasal dari Pasai, sebelah utara Aceh yang berkedudukan di Gunung Jati, Cirebon. 
  7. Sunan Kudus atau Ja’far Sodiq, putra dari Raden Usman Haji yang bergelar Sunan Ngandung di Jipang Panolan, berkedudukan di Kudus. 
  8. Sunan Kalijaga, nama aslinya Raden Mas Syahid. Beliau adalah putra Tumenggung Wilatikta, Bupati Tuban yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak.
  9. Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah putra dari Sunan Kalijaga berkedudukan di Gunung Muria, Kudus.
2.   Cara-Cara Dakwah di Nusantara
      a. Perdagangan (lihat buku)
      b. Perkawinan (lihat buku)
      c. Pendidikan (lihat buku)
      d. Hubungan Sosial (lihat buku)
      e. Kesenian (lihat buku)

3.   Kerajaan-Kerajaan Islam di Nusantara
a. Kerajaan Samudera Pasai (lihat buku) 
b. Kerajaan Aceh (lihat buku)
c. Kerajaan Demak (lihat buku)
d. Kerajaan Pajang (1568-1586) (lihat buku)
e. Kerajaan Mataram Islam (abad 17-19) (lihat buku)
f. Kerajaan Banjar (lihat buku)
g. Kerajaan Gowa-Tallo (lihat buku)
h. Kerajaan Ternate (lihat buku)
i. Kerajaan Tidore (lihat buku)

Untuk penjelasan dari sub bagian di atas silahkan lihat buku paket Pendiidikan Agama dan Budi Pekerti

Absen terlebih dahulu pada link di bawah ini:


Materi tambahan